Rahasia Dibalik Musibah dan Bencana

http://www.eramuslim.com

Insan muda / jika melihat fenomena alam yang terjadi belakngan ini / maka terbesit sebuah pertanyaan / yang menghantui bangsa / Akankah  terus terjadi bencana dan musibah di Indonesia ?//

Seperti yang kita ketahui Berulang lagi terjadi teguran Allah yang  Tak dapat diprediksi peristiwa dan kejadiannya / Selalu mengejutkan dan mendadak // Walaupun dengan alat dan teknologi modern sekarang ini sudah dapat di deteksi dari awal / Tetapi tetap saja / seakan segala menjadi lambat // yang pada akhirnya /  mengakibatkan korban manusia yang tak sedikit jumlahnya ///

Beberapa bulan belakangan ini peristiwa musibah dan bencana alam terus  terjadi berulang-ulang / hamper Tak ada jeda // keadaan ini  membuat kita menjadi sangat prihatin dan sedih // apalagi Membawa korban manusia yang begitu banyak //

Banjir di Jakarta / Berapa kerugiannya?/  Kecelakaan kereta api di Pemalang / menewaskan puluhan orang dan luka – luka//Disusul banjir bandang yang terjadi di Wasior (Papua) /  wailayah pantai itu / luluh lantak/  korban yang tewas ratusan dan masih banyak yang korban yang belum ditemukan // Belum usai di Wasior /  berlangsung pula peristiwa tsunami yang menghancurkan kepulauan Mentawai // Daratan Mentawai itu disapu gelombang pasang / semuanya habis / ratusan orang pula yang hilang menjadi korban // Terakhir gunung Merapi di dekat kota Yogyakrata /  meletus / yang memakan cukup banyak korban ///

Sebelum meletus pusat vulkanologi sudah memberikan peringatan / tentang bahaya gunung Merapi yang sewaktu-waktu dapat meletus / Tetapi, proses evakuasi berlangsung lambat // berbagai faktor menjadi alasan// Sampai benar-benar gunung Merapi meletus dan mengeluarkan awan panas / tetap saja Banyak korban berjatuhan / Termasuk ‘sesepuh’ Mb ha Maridjan ///

Daerah-daerah yang menjadi tempat-tempat bencana mendapatkan data-data yang valid / seharusnya pemerintah bertindak cepat / mengantisipasi dan mengambil tindakan yang cepat guna menghadapi bencana // Sebenarnya pemerintah mempunyai kemampuan mekukan tindakan yang sifatnya darurat dan memaksa penduduk meninggalkan tempat tinggal mereka // Karena kondisi sudah sangat memaksa / Kenyataanya terlambat Kampung-kampung yang diterjang abu dan awan panas dari gunung Merapi semua hancur luluh lantak ///

Peristiwa yang menimpa wilayah Suematera Barat dan kota Padang / juga sebelumnya sudah ada informasi dan data-data tentang kemungnkinan akan terjadi gempa dan tsunami //  Seharusnya pemerintah mengambil langkah-langkah darurat / mengantisipasi kemungkian terjadinya gempa dan tsunami // Tetapi /  semuanya tidak dilakukan / dan akhirnya hanya melihat hancurnya kota Padang / dan menyaksikan beberapa desa yang terkubur serta ratusan warga yang ikut terkubur

Tindakan dan langkah apa yang akan disiapkan oleh pemerintah menghdapai berbagai bencana di Indonesia ? Inilah pertanyaan penting / dan pemerintah seharusnya mengambil langkah-langkah yang konkrit untuk menyelamatkan penduduk yang kemungkinan akan terkena gempa dan tsunami / jangan hanya menjadi ajang pamer kepedulian dengan mengunjungi korban setelah peristiwa itu terjadi ///

Selanjutnya / kota yang akan berdampak kepada Indonesia /  tak lain adalah kota Jakarta // sebagai kota yang menjadi pusat ekonomi dan pemerintahan / Kehidupan di Jakarta menjadi tidak produktif dan tidak efisien / Waktu terlalu banyak yang terbuang di jalanan /  Hanya karna sistem transportasi yang sangat tidak memadai / Orang banyak menggunakan kenderaan pribadi // Sementara itu / tidak tindakan apapun / yang dijalankan pemerintah untuk mengurangi dampak dari kemacaten yang ada // Gagasan dari Pemda DKI Jakarta membuat ‘Busway’/ juga tak mampu mengatasi jumlah penumpang yang terus bertambah / dan sementara sarana transportasi yang ada sangat terbatas ///

Sekarang orang-orang yang dahulunya tinggal dipinggiran kota / kembali ke pusat-pusat kota / dengan Tinggal di apartemen / Apakah ini sebuah solusi menghadapi problem ibu kota ? // yang justru akan menimbulkan masalah baru / yaitu Masalah sosial / lingkungan / budaya /  dan bahkan masalah moral//

Insan muda / Bencana alam /  musibah /  dan berbagai persoalan yang belakangan ini timbul / seharusnya kita bersama sebagai sebuah bangsa harus dapat menghambil pelajaran / kemudian  mengambil tindakan bersama mengatasi masalah yang akan timbul // sekarang yang harus kita fikirkan Bagaimana bisa hidup dengan lebih baik? / agar Indonesia tidak menjadi negeri bencana yang mengakibatkan penduduknya terus menderita///

Vedy Santoso / rasida fm / the voice of student ///

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

MENGAPA RIDHO ALLAH TERGANTUNG PADA RIDHO ORANG TUA ?

Sebagai seorang anak, sebaiknya kita selalu mengharap keridoan dari keduanya dan memenuhi perintah-perintahnya, sepanjang tidak untuk berbuat maksiat. Juga anak harus selalu mementingkan keduanya dengan mendahulukan keinginan – keinginannya dari pada kepentingan dan keinginan pribadi .

Pernahkah anda membayangkan saat pulang kerumah mendapati orang tua kita sudah terbaring kaku dibungkus dengan kain kafan. Perasaan menyesal terbesit dalam hati karena sebagai anak belum cukup berbakti. Untuk itu tunaikanlah kewajiban kita selagi kedua orang tua masih hidup. Berbuat baiklah pada kedua orang tua.

Berbakti kepada kedua orang tua sering sekali disebutkan dalam Al-Quran, bahkan digandengkan dengan tuntunan menyembah Allah. Hal ini menunjukan bahwa berbakti kepada Kedua orang tua (Ibu – Bapak) adalah wajib. Anak berkewajiban berbuat baik kepada kedua orang tuanya yang harus ditunaikan semaksimal mungkin. Apalagi jkia sering menyakitinya dengan cara membantah dan berkata kasar pada mereka.

Termasuk durhaka kepada kedua orang tua, adalah menyakitinya dengan tidak mau memberikan hal yang baik kepada keduanya, sesuai dengan kemampuan. Kemudian bagaimanakah kita sebagai anak tega memalingkan muka dan berkata kasar kepadanya.[1]

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (untuk berbuat baik) kepada kedua orang tuanya, (terutama kepada ibunya), karena ibunyalah yang mengandungnya dengan berbagai susah payah, dan menyapihnya dalam (umur) dua tahun. Oleh karena itu hendaklah kamu bersyukur kepada Ku (hai manusia) dan juga kepada Kedua orang tuamu.” ( QS. Luqman 14 )

Kalau dalam islam menaruh perhatian tentang masalah hak  – hak anak yang harus ditunaikan oleh orang tua, misalnya pendidikan, pengajaran, nafkah dan sebagainya, maka dari segi lain Islam juga menaruh perhatian tentang  anak – anak harus pula menunaikan kewajiban atas orang tuanya, sebagai penghargaan atas pengorbanan mereka. Sekaligus sebagai pengarahan kaum muslimin untuk dapat mensyukuri nikmat Allah yang diberikan kepada mereka.

Seperti dalam hadits dari Abu Abdulrahman, diceritakan bahwa Abdul Mas’ud pernah bertanya kepada Rasulullah SAW. tentang pahala yang banyak mendatangkan pahala dari Allah SWT. Maka beliau menjawab, bahwa perbuatan yang sangat banyak mendatangkan pahala ialah shalat tepat pada waktunya, karena dengan shalat tepat pada waktunya itu berarti suatu ketaatan yang continue (ajeg) dan merupakan muraqobah yang optimal (merasa selalu diperhatikan Allah). Selanjutnya adalah berbuat baik kepada kedua orang tua (birrul walidain) sebagai hak mahluk sesudah menunaikan hak Allah.[2]

Dari  Abu Abdulrahman, Abdullah bin Mas’ud, ia menceritakan: Aku pernah bertanya pada Rasulullah, tentang prbuatan apakah yang paling dicintai Allah? Jawab beliau : “yaitu shalat pada waktunya”. Aku bertanya lagi: Kemudian apa lagi? Jawab beliau: “berbuat baik kepada orang tua”. Aku bertanya lagi: Kemudian apa lagi? Beliau menjawab: “Jihat fisabilillah”. ( HR. Bukhori dan Muslim – Riyadhush Shalihin 3/315

Berkorban untuk orang tua

َوَعَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ عُمَرَ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا-, عَنْ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( رِضَا اَللَّهِ فِي رِضَا اَلْوَالِدَيْنِ, وَسَخَطُ اَللَّهِ فِي سَخَطِ اَلْوَالِدَيْنِ ) أَخْرَجَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ

“Dari Abdullah Ibnu Amar al-‘Ash Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Keridloan Allah tergantung kepada keridloan orang tua dan kemurkaan Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua.” Riwayat Tirmidzi. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban dan Hakim.”

Berbuat baik kepada kedua orang tua dan selalu mencari keridhoanya dengan memberikan penghargaan dan penghormatan dalam batas – batas yang halal, belumlah seberapa kalau dibandingkan dengan pengorbannan orang tua orang tua kepada anak dalam memberikan asuhan dan pendidikan. Baru seimbang seandainya orang tuanya itu tertawan menjadi budak oleh musuh, kemudian ditebusnya lalu dibebaskanya seperti yang tertera dalam hadits berikut ini :

“Abu Hurairoh menuturkan, bahwa Rasulullah SAW. bersabda: “Belumlah dinamakan seorang anak membalas orang tua, sebelum dia mendapatkan orang tuanya itu tertawan menjadi budak, lalu ia tebusnya kemudian memerdekakanya”. ( HR. Muslim – Riyadhush Shalihin 4/316 )

Berdasarkan hadits tersebut, maka seorang anak dituntut untuk memberikan pengorbannan yang sebesar-besarnya demi kepentingan orang tua. Dan itulah yang dinamakan “birrul walidain” yang sejati.[3]

Mengutamakan ibu

“Abu Hurairoh juga meriwayatkan, bahwa ada seorang lelaki menghadap Rasulullah SAW. Untuk menayakan siapakah orang yang lebih patut dilakukan persahabatan dengan baik? Maka jawab Rasulullah SAW. Ibumu. Kemudian ia pun bertanya lagi : lalu siapa lagi? Jawab beliau tetap : Ibumu. Lalu ia bertanya lagi: Lalu siapa lagi: Maka kali ini jawab beliau: Ayahmu” ( HR. Bukhari dan Muslim – Riyadhush Shalihin 9/319 )

Dalam satu riwayat ( bahwa lelaki tersebut bertanya ): Ya Rasulullah, siapakah orang yang lebih patut dilakukan persahabatan dengan baik? Beliau menjawab: Ibumu, kemudian ibumu, kemudian ibumu, dan kemudian bapakmu, dan selanjutnya orang – orang yang paling dekat denganmu, dan yang paling dekat denganmu.

Dari hadits ini dapat kita ambil bebeapa pelajaran yaitu :

  1. Ibu dalam hubungan dengan anak — adalah lebih diutamakan dari pada ayah.
  2. Balasan amal (jaza’) sesuai dengan tingkat amalnya.
  3. Tertib hak – densarzgan hubungan sesama insan adalah berdasar dekatnya hubungan.

Rasulullah lebih menekakan dan mengutamakan ibu ketimbang ayah dalam kaitanya dengan masalah perlakuan, karena suatu fakta ibulah yang mengandungnya dan yang mengasuhnya. Berarti dialah yang banyak merasakan kepayahan disamping itu, ibu sangatlah dibutuhkan oleh anak – anaknya.

َوَعَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( مِنْ اَلْكَبَائِرِ شَتْمُ اَلرَّجُلِ وَالِدَيْهِ قِيلَ: وَهَلْ يَسُبُّ اَلرَّجُلُ وَالِدَيْهِ؟ قَالَ: نَعَمْ يَسُبُّ أَبَا اَلرَّجُلِ, فَيَسُبُّ أَبَاهُ, وَيَسُبُّ أُمَّهُ, فَيَسُبُّ أُمَّهُ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

“Dari Abdullah Ibnu Amar Ibnu al-‘Ash Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Termasuk dosa besar ialah seseorang memaki orang tuanya.” Ada seseorang bertanya: Adakah seseorang akan memaki orang tuanya. Beliau bersabda: “Ya, ia memaki ayah orang lain, lalu orang lain itu memaki ayahnya dan ia memaki ibu orang lain, lalu orang itu memaki ibunya.” Muttafaq Alaihi”

Sopan Santun Anak kepada Orang Tua

Dan dari Abu Hurairoh, dari Nabi SAW. Beliau bersabda: “ Celaka, sekali lagi celaka, dan sekali lagi celaka orang yang mendapatkan kedua orangtunya berusia lanjut, salah satunya atau kedua – duanya, tetapi (dengan itu) dia tidak masuk surga” ( HR. Muslim – Syarah Riyadhush Shalihin juz 2 halaman 10/320 )

Dalam hadits ini oleh Rasulullah SAW. diterangkan bahwa keberadaan orang tua yang telah berusia lanjut itu justru kesempatan paling baik untuk mendapatkan pahala dari Allah dan jembatan emas menuju surga. Karena itu justru rugi besar, orang yang menyia – nyiakan kesempatan yang paling baik ini, sehingga dia mengabaikan hak – hak orang tuanya itu. Hadits ini merupakan penegasan dari ayat yang memerintahkan anak berbakti pada kedua orang tua dan tidak boleh berkata kasar serta kata – kata yang menjengkelkan hati semacam “ah” di saat-saat orang tua berusia lanjut. ( QS. Al-isra’ 23 )

Kemudian dalam suatu riwayat oleh Imam Bukhori dan Muslim Rasulullah menerangkan bahwa hak kedua orang tua itu harus lebih didahulukan dari pada hijrah dan perang, dengan catatan apabila anak tersebut adalah satu – satunya yang mengurus kedua orang tuanya.  Waktu itu pmerintah boleh membebaskan kewajiban perang terhadap satu – satunya anak yang orang tuanya tidak lagi mampu berusaha sendiri.

Dalam kitab bidayatul hidayah ( tuntunan mencapai hidayah Allah ) karangan Imam Abu Hamid Al-Ghozali dijelaskan agar kita memperhatikan sopan santun bergaul dengan kedua orang tua, diantaranya ialah :

  1. Mendengar ucapan mereka
  2. Berdiri ketika mereka berdiri, untuk menghormatinya
  3. Menaati semua perintah mereka
  4. Tidak berjalan didepan mereka
  5. Tidak bersuara lantang kepadanya, atau membentak meskipun dengan kata – kata “hus”
  6. Memenuhi panggilanya
  7. Bersuara menyenangkan hati mereka
  8. Bersikap ramah ( tawadlu’) terhadap mereka
  9. Tidak boleh mengungkit kebaikannya yang telah diberikan kepada mereka

10.  Tidak boleh melirik kepada mereka atau menyinggung perasaanya

11.  Tidak boleh bermuka masam dihadapan mereka

12.  Tidak melakukan bepergian kecuali dengan izin mereka

Berbakti pada orang tua yang sudah meninggal

Tak penah bisa kita bayangkan betapa sedihnya saat mendapati ibu atau ayah kita sudah terbaring kaku di depan mata. Padahal kita sering sekali berbuat salah dan durhaka pada ibu, sering berkata kasar pada bapak saat meminta uang. Perasaan menyesal karena belum sempat meminta maaf apalagi berbakti pasti menambah kesedihan . lalu apa yang bisa anak lakukan untuk berbakti pada orang tuanya yang sudah meningggal.

Abi Usaid, Malik bin Rabi’ah as-Sa’idi r.a;. mengatakan ketika kami sedang duduk bersama Rasulullah SAW. Tiba – tiba ada seorang lelaki dari bani Salamah menghadap Rasulullah seraya berucap : Ya Rasulullah apakah masih ada kebaikan yang harus saya tunaikan terhadap kedua orang tua ku sepeninggal mereka? Jawab Rasulullah SAW. : Ya, masih ada, yaitu engkau mendoakanya, meminta ampun kepada Allah untuk mereka, melaksanakan janji mereka sesudah mereka itu meninggal dunia, menyambung kekeluargaan dimana kekeluargaan itu tidak akan bisa bersambung melainkan dengan sebab orang tua tersebut dan menghormati kawan – kawan kedua orang tua. ( HR. Abu Daud )

Dari hadist diatas dapat kita ambil pelajaran bahwa setelah orang tua kita meninggal ternyata masih ada yang dapat dilakukan anak untuk berbakti kepada orang tua. Diantaranya :
[1] mendo’akannya
[2] menshalatkan ketika orang tua meninggal
[3] selalu memintakan ampun untuk keduanya.
[4] membayarkan hutang-hutangnya
[5] melaksanakan wasiat yang sesuai dengan syari’at.
[6] menyambung tali silaturrahmi kepada orang yang keduanya juga pernah menyambungnya

Salah satu cara kita sebagai anak dalam mempraktikan ajaran – ajaran yang ternukil di Al- Quran dan hadits Nabi adalah dengan cara berbakti kebada orang tua. Karena untuk mendapatkan ridho Allah kita harus bisa mendapatkan ridho dari kedua orang tua. Orang tua sudah berkorban banyak untuk membesarkan anaknya . ini harus di balas oleh anaknya dengan cara berbakti kepada orang tua, baik mereka yang masih hidup atupun mereka sudah meninggal dunia. Bahkan tanggung jawab anak sebagai ahli waris justru lebih bertambah setelah orang tuanya meninggal.

Referensi :

– Sayid Abdullah bin Alwi, bin Muhammad Al-hadad, ,Risalatul Mu.awanah, terjemah

– Majid Hasyim Husaini A.,”Syarah : Riyadhush Shalihin Jilid 2”,1993,PT Bina Ilmu,  Surabaya.

– kitab Bulughul Marom


[1] Sayid Abdullah bin Alwi, bin Muhammad Al-hadad, ,Risalatul Mu.awanah, terjemah, hal 141

[2] Majid Hasyim Husaini A.,”Syarah : Riyadhush Shalihin Jilid 2”,1993,PT Bina Ilmu, Surabaya. Hal. 3

[3] Majid Hasyim Husaini A.,”Syarah : Riyadhush Shalihin Jilid 2”,1993,PT Bina Ilmu, Surabaya. Hal. 4

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

kadang – kadang

kadang – kadang mengejar asa itu melelahkan apalagi keadaan yang kadang – kadang berubah, kadang semangat kadang lemah. juga ini terjadi di dua jurnalistik sudah tau ada kode etik yang di sepakati bersama tapi ya kadang – kadang orang juga g kalah kreatif melanggarnya . sampai saat ini perjunjingan, isu sosial yang berbau propokasi laris terjual .

kadang – kadang memang tujuan orang membaca berita atau menonton siaran berita bahkan mendengar berita radio berbeda -beda ada. kadang kadang ada yang memang mencari informasi terkini tentang bencana alam yang melanda daerahnya, dan insan  jurnalistik akan terus melaju kenjang bagai kereta yang sedang menjemput penumpang , walau kadang kdang banyak godaan, rintangan dan halangan. persiapkan untuk terus berjuang memberikan informasi yang berimbang , karena sbentarlagi kita hadapi era konvergensi media yang menuntuk kretifitas para praktisi pers.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

kabar atau berita

seorang wartawan atau reporter bertugas mencari berita kemudian mengabarkanya. fakta yang di kumpulkan dari lapanganpun tidak semuanya beritakan. karena ingat wartawan adalah pahlawan media tentusaja kefaktualan dan kejelasan informasi masyarakat tanggung jawabnya .

hanya saja memang saat wartawan suda mendapatkan nasrasumber yang tepat tapi narasumber tersebut no comment, ini menjadi cobaan kesabaran bagi wartawan tapi juga tanntangan untuk dapat berfikir kreatif. dam mempersembahkan berita yang berkwalitas yang sangat di butuhkan masyarakat.

untuk itu seorang harus paham dulu dengan apa yang dimaksud dengan “berita”. berita atau kabar atau informasi adalah fakta yang sebetulya yang datang dari sumber berita atau narasumber. tapi tidak semuanya dapat di sebut berita karena fakta ini harus memehui syarat kelayakan antara lain:

1. fakta ini menyangkut hajat hidup orang banyak, yang harus diketahui karena dapat berdampak pada kehidupan manusia

2. bermanfaat bagi khalayak banyak sehingga setelah mengetahui fakta ini akan ada respon positif dari masyarakan dan wartawan pun dapet pahala deh

3. menambah pengetahuan tentunya karena wartawan juga bepropesi sebagai guru media jadi punya tanggung jawab edukatif dan ikut mencerdaskan dunia

kalo kita renungkan sejenak dan coba membuka buku-buku sejarah manusia . ternaya sejak manusia saling berinteraksi saat masih bayi dengan ibunya dia sudah mulai menima berita dari sang ibu juga sebaliknya si banyi mencoba memberi tahu sang ibu dengan tangisnya.

hanya saja semkin di besar banyak berita lewat bahasa ibu  yang di tankapnya. berita -berita ini akan ditafsirkan oleh otak dan kemudian mempengaruhi prilaku seseorang, ya karena apa yang dipikirkan seseorang itulah yang akan dilakukanya .

setelah terus bertambah dewasa banyak berita yang menyesatkan manusia , dlm sejarah peradapan manusia di utusnya para nabi dan rasul adalah pembawa kabar dari allah swt agar menjadi petunjuk kita agar selamat dalam menjali hidup ini.

oleh sebab itu mari para pencari berita kita berburu fakta untuk membangun dunia,

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

memilih broadcasing jurnalis

jurnalistik radio

“lakukanlah yang pantas di tulis dan tulislah yang pantas di dengar”

Saat ini saya dalah wartawan kamus radio yang sedang belajar dan berproses dari awal dari keinginan ku menjadi ahli di bidang broadcasting jurnalistik. reportase adalalah merangkai kata-berdasarkan fakta dan relita yang disertai bukti yang nyata bukan sekedar oipini belaka.  keprihatinan melihat pemberitaan yang selama ini beredar yang kebanyakan hanya menebar isue yang belum jelas tapi ini jadi tantangan buatku untuk menjadi praktisi yang memberi warna lain di area jurnalistik dan meniti karir untuk menjadi aeorang yang ahli di bidang broadcasting jurnalistik.

ada tantangan yang lebih di jurnalistik radio yang saat ini sudah dipandang sebelah mata. tidak hanya mengumpulkan prosa tapi juga meramunya dalam sebuah sajak yang enak didengar oleh telinga dan tentunya menggugah hati pendengarkita. apalagi dalam membuat feature radio yang menuntut jiwa seni dari reporter mulai dari memilih backsaund sampai dengan memasukan steatmen dari narasumber.

bisa di bilang reporter  radio lebih disiplin dari militer. jam kerjanya tak karuan,  dia terus memburu berita tanpa batas waktu kapanpun, dimanapun, harus siap sejia, dia adalah pahlawan media. kreatisitas juga terus ditantang oleh pendengar karena di jaman konvergensi media ini kretifitas menjadi jawabanya.

hanya saja yang perlu diperhatikan bersama adalah setiap huruf yang kita gunakan akan kita pertanggung jawabkan, ililah mengapa jurnalis dijuluki pahlawan media .

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Dipublikasi di Uncategorized | 1 Komentar